jump to navigation

Memberi Hadiah November 5, 2009

Posted by Sakiyo in kisah berhikmah.
trackback

Ada beberapa alasan yang melarang untuk memberi dan menerima hadiah. Perhatikan bahwa Ratu Saba memberi hadiah kepada Sulaiman a.s. dan Sulaiman menolaknya ; Ibrahim a.s. menerima Hajar sebagai budak yang dihadiahkan kepada istrinya, Sarah ; dan Muhammad s.a.w juga tidak menolak hadiah. Pertanyaannya, mengapa Nabi s.a.w. menerima, sedangkan Sulaiman a.s. menolak pemberian seseorang?.

Sulaiman menolaknya karena ada upaya penyuapan dalam urusan agama. Wanita tersebut mengirimkan hadiah agar Sulaiman membiarkannya menyembah mata hari, Dan Sulaiman bukan tipe orang yang mudah disuap. Apalagi dia berada dalam posisi yang kuat dan kaya, saat itu. Sulaiman menolaknya karena ada unsur penyuapan dalam urusan agama.

Allah berfirman ; dalam QS.An-Naml : 35-37

Jika hadiah bertujuan sebagai penyuapan untuk menyamarkan kebenaran dan membela kebhatilan, maka ketika itu hadiah tidak boleh diterima. Begitu pula jika hadiah ditujukan untuk para penguasa agar mereka memberikan sesuatu yang bukan hak anda (KKN), maka haram hukumnya memberi hadiah dan menerimanya. Dalam kasus seperti ini, Nabi menggunakan kata larangan yang keras.

Abu Daud meriwayatkan dari Abdullah ibn Amr :

“Rasulullah s.a.w. melaknat orang yang menyuap dan orang yang menerima suap”.

Demikian juga halnya, hadiah dari barang curian atau barang haram tidak boleh diterima, karena termasuk memakan barang haram dan membantu berbuat dosa dan permusuhan.

Ahmad meriwayatkan bahwa Mughirah ibn Syu’bah berteman dengan sekelompok orang musyrik. Dia mendapatkan kesalahan pada mereka, sehingga dia memerangi mereka dan mengambil hartanya. Kemudian Mughirah membawa harta itu kepada Rasulullah dan beliau menolaknya.

Jika hadiah diberikan untuk mendapatkan keuntungan lebih besar, dan jika tidak didapatkan akan melahirkan penyesalan, maka hadiah tersebut tidak boleh diterima.

Allah berfirman, (QS. Ar-Rum : 39).

Ini sama dengan orang yang memberi hadiah dengan harapan mendapatkan keuntungan berlipat dari orang yang diberi hadiah.

Jika orang yang memberi hadiah menganggap hadiahnya itu sebagai utang Anda kepadanya dan Anda tidak mau menanggungnya, maka jangan menerima hadiah seperti itu. Tolaklah hadiah itu dengan sopan agar tidak melukai hati orang yang memberi.

Jika orang yang memberi hadiah adalah tipe orang yang suka mengungkit-ungkit pemberiannya, maka Anda harus menolaknya.

Anda tidak dibenarkan memberi hadiah kepada orang bodoh yang akan menggunakan pemberian itu untuk maksiat kepada Allah dan berbuat kerusakan di muka bumi. Allah telah berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak menyukai kerusakan” (QS. Al-Baqarah : 205).

Yang perlu diperhatikan dalam memberi hadiah adalah kepastian bahwa hadiah sepenuhnya berdampak positif. Jangan sampai hadiah yang Anda berikan kepada seseorang menyebabkan kedengkian pada orang lain. Kadang kala Anda memberi hadiah kepada salah satu anak Anda dan itu iri Anak Anda yang lain.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: