jump to navigation

Kepergian manusia terkasih November 26, 2008

Posted by Sakiyo in kisah berhikmah.
trackback

Kematian adalah muara kehidupan manusia dan akhir perjalanannya di dunia, tidak ada yang lolos dari lubang jarum kematian, besar dan kecil, tua dan muda, sehat dan sakit, laki-laki dan wanita, semua yang hidup pasti akan meneguk gelas kematian dan memasuki gerbangnya. Akan tetapi sesungguhnya kematian merupakan satu pintu menuju alam akhirat. Alam di mana kita dapat merasakan semua hal yang telah kita lakukan di dunia. Ada yang panen pahala, tapi juga ada yang dirundung duka karena siksa Allah selama-lamanya.

Kematian adalah satu hal yang niscaya bagi semua makhluk (Kullu maa siwallah: Semua hal selain Allah), hatta malaikat pencabut nyawa. Semua sudah dipastikan ajalnya. Kita tidak akan mampu menghindar dari kematian, kita tidak berkuasa menentukan kapan datangnya Ijrail sang pencabut nyawa, tapi kita dapat memilih apa yang sedang kita lakukan ketika kematian itu datang.

Apakah malaikat itu tersenyum saat nyawa kita di tenggorokan, atau malah datang dengan wajah ketus dan bengis saat kita di akhir kehidupan? Semua tergantung amalan kita. Karena hidup ini adalah pilihan, apakan kita termasuk ash_habul yamin atau ash_habus syimal.
Berikut ini adalah sejarah yang terekam tentang kematian manusia terbaik, sayid para nabi dan rasul, Muhammad saw.
Pada saat tanda-tanda sakit mulai terlihat pada diri Rasulullah saw, beliau bersabda, “Aku ingin mengunjungi syuhada perang Uhud.” Beliau berangkat dan berdiri di atas kubur mereka dan berkata, “Assalamu’alaikum wahai syuhada Uhud, kalian adalah orang-orang yang mendahului, kami, insya Allah, akan menyusul kalian dan aku pun insya Allah akan menyusul kalian.”
Pulang dari sana Rasulullah saw menangis, mereka bertanya, “Apa yang membuatmu menangis ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Aku rindu kepada saudara-saudaraku.” Mereka berkata, “Bukankah kami adalah saudara-saudaramu ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Bukan, kalian adalah sahabat-sahabatku. Adapun saudara-saudaraku, maka mereka adalah kaum yang datang sesudahku, mereka beriman kepadaku dan tidak melihatku.”
Tiga hari sebelum wafat, sakit beliau mulai menguat. Waktu itu beliau menginap di rumah Maemunah, beliau bersabda, “Kumpulkan istri-istriku.” Para istri berkumpul. Nabi saw bertanya kepada mereka, “Apakah kalian mengizinkanku menginap di rumah Aisyah?” Mereka menjawab, “Kami mengizinkanmu ya Rasulullah.” Beliau hendak bangkit, tetapi tidak mampu. Maka datanglah Ali bin Abu Thalib dan Fadhl bin Abbas memapah Rasulullah dari rumah Maemunah ke rumah Aisyah.
Untuk pertama kali para sahabat melihat Nabi saw dipapah. Mereka berkumpul dan bertanya-tanya, “Ada apa dengan Rasulullah, ada apa dengan Rasulullah?” Orang-orang mulai berkumpul di masjid. Dan masjid pun penuh dengan para sahabat.
Nabi saw dibawa ke rumah Aisyah, beliau mulai berkeringat dan berkeringat. Aisyah berkata, “Aku belum pernah seumur-umur melihat orang berkeringat sederas ini.” Lalu Aisyah memegang tangan Rasulullah dan mengusap keringat dengan tangan itu. Mengapa dengan tangan Rasulullah saw dan bukan dengan tangannya sendiri? Aisyah menjelaskan, “Tangan Rasulullah saw lebih baik dan lebih mulia dari tanganku. Karena itu aku mengusap keringatnya dengan tangannya dan bukan dengan tanganku.” Ini merupakan penghormatan kepada Nabi saw.
Aisyah berkata, aku mendengarnya berkata, “La ilaha illallah, kematian mempunyai sekarat. La ilaha illallah, kematian mempunyai sekarat.” Terdengar suara gaduh dari masjid. Nabi saw bertanya, “Ada apa?” Aisyah menjawab, “Orang-orang mengkhawatirkanmu ya Rasulullah.” Nabi saw berkata, “Bawalah aku kepada mereka.”
Beliau hendak berdiri tetapi tidak bisa, maka beliau disiram air tujuh kali agar sadar, selanjutnya beliau dibawa ke masjid ke atas mimbar. Inilah khutbah terakhir di mana beliau berkata, “Wahai manusia sepertinya kalian mengkhawatirkanku.” Mereka menjawab, “Benar ya Rasulullah.” Rasulullah saw bersabda, “Wahai manusia, dunia bukanlah pertemuan kalian denganku akan tetapi pertemuan kalian denganku adalah di telaga. Demi Allah seolah-olah diriku melihatnya dari tempat ini. wahai manusia, demi Allah bukan kemiskinan yang aku takutkan atas kalian, akan tetapi yang aku takutkan atas kalian adalah dunia. Kalian berlomba-lomba padanya sebagaimana orang-orang sebelum kalian juga berlomba-lomba padanya. Maka ia membinasakan kalian seperti ia telah membinasakan mereka.”
Beliau melanjutkan, “Wahai manusia bertakwalah kepada Allah pada wanita aku mewasiatkan agar kalian berbaik-baik kepada wanita.” Kemudian beliau melanjutkan, “Wahai manusia sesungguhnya seorang hamba diberi pilihan oleh Allah antara dunia dan apa yang ada di sisiNya maka dia memilih apa yang ada di sisiNya.” Tidak seorang pun yang mengerti siapa hamba tersebut, padahal maksud Nabi saw adalah dirinya sendiri, kecuali Abu Bakar. Ketika Abu Bakar mendengar ucapan Rasulullah saw, dia tidak mampu menahan dirinya, tangisannya terdengar di seluruh masjid, dia memotong ucapan Rasulullah saw, “Ya Rasulullah, kami mengorbankan bapak-bapak kami untukmu, ya Rasulullah kami mengorbankan ibu-ibu kami untukmu, ya Rasulullah kami mengorbankan istri-istri kami untukmu, ya Rasulullah kami mengorbankan harta-harta kami untukmu.” Abu Bakar mengulang-ulang ucapannya. Maka orang-orang melihatnya dengan kejengkelan, bagaimana dia berani memotong pembicaraan Rasulullah saw. Rasulullah saw meneruskan, “Wahai manusia, tidak seorang pun dari kalian yang memiliki jasa kepada kami kecuali kami telah membalasnya, kecuali Abu Bakar, aku tidak kuasa membalasnya, maka aku menyerahkannya kepada Allah Taala. Semua pintu ke masjid hendaknya ditutup kecuali pintu Abu Bakar, ia tidak ditutup untuk selama-lamanya.”
Beliau dipapah pulang ke rumah. Datanglah Abdur Rahman bin Abu Bakar dengan siwak di tangannya. Aisyah berkata, “Dari pandangan kedua matanya aku mengerti bahwa beliau menginginkan siwak. Maka aku mengambil siwak dari tangan Abdur Rahman dan melunakkannya terlebih dahulu dengan mulutku, seterusnya aku berikan kepada Nabi saw. Jadi ludahku adalah sesuatu yang paling terakhir yang masuk ke dalam mulut Rasulullah saw.”
Putri Rasulullah saw Fatimah datang, dia menangis, dia menangis karena dia terbiasa setiap kali datang kepada Nabi saw, Nabi saw berdiri menyambutnya dan mencium keningnya, akan tetapi kali ini Nabi saw tidak kuasa berdiri untuknya. Rasulullah saw berkata kepada Fatimah, “Mendekatlah kemari wahai Fatimah.” Rasulullah saw berbisik kepadanya di telinganya, maka Fatimah menangis. Kemudian beliau berkata kepadanya untuk kedua kalinya, “Mendekatlah kemari ya Fatimah.” Rasulullah saw berbisik kepadanya dan Fatimah tertawa. Setelah Rasulullah saw wafat, Fatimah ditanya tentang hal itu, maka dia menjawab, beliau berkata kepadaku, “Wahai Fatimah aku mati pada malam ini.” Maka aku menangis. Kemudian beliau berkata kepadaku, “Wahai Fatimah, kamu adalah keluargaku pertama yang menyusulku.” maka aku tertawa.
Lalu Nabi saw bersandar di dada Aisyah istrinya. Aisyah berkata, beliau mengangkat tangannya dan pandangannya ke langit, kedua bibirnya bergerak, yang terdengar oleh Aisyah adalah, “Bersama orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah dari kalangan para nabi, shiddiqin, syuhada` dan shalihin, ya Allah ampunilah aku dan rahmatilah aku, dan kembalikan aku kepada ar-Rafiq al-A’la, ya Allah ar-Rafiq al-A’la.” Kata terakhir terulang tiga kali dan tangannya luruh. Beliau berpulang.
Perisitwa besar ini terjadi di waktu dhuha pada hari Senin 12 Rabi’ul Awal tahun 11 H, usia beliau pada saat itu enam puluh tiga tahun lebih empat hari.
Anas berkata, “Aku tidak pernah melihat satu hari pun yang lebih baik dan lebih bersinar daripada hari kedatangan Rasulullah saw, dan aku tidak melihat satu hari pun yang lebih buruk dan lebih gelap daripada hari kematian Rasulullah saw.”

Sungguh Rasulullah manusia yang teramat mulia. Manusia yang paling indah perangainya, hingga Allah sanjungkan pujian terindah dalam al-Qur’an “Sesungguhnya pada diri engkau terdapat akhlak yang agung”. Bagimana kita tidak bangga mempunyai panutan seperti beliau. Sungguh cintanya kepada kita teramat dalam, hingga ketika ajal hampir menjempunya, beliau masih khawatirkan umatnya, “Ummatii, Ummatii”.

Pertanyaan sekarang adalah. Apakah cinta rasul yang mulia, berbekas dala hati kita? Apakah ketulusannya menyayangi kita telah mampu kita balas dengan keikhlasan mencintai umatnya? Atau malah sebaliknya, kita terlena dengan berbuat dosa demi kesenangan dunia, tanpa pernah memikirkan jasa-jasanya. Ketahuilah, hal yang paling dicintai rasulullah adalah ketika kita berpegang teguh pada dua warisan terbesar yang ditinggalkannya, ialah al-qur’an dan Sunnah-sunnahnya. Barangsiapa berpegang teguh melaksanakan keduanya, niscaya ia telah buktikan cintanya pada rasulullah SAW. Barangsiapa mencintai rasulullah maka ia akan selalu berusaha dekat dengan orang-orang yang menjadi pewarisnya, merekalah para ulama. Dan barangsiapa tulus cintanya pada sang nabi termulia, maka ia akan curahkan kasih sayangnya kepada orang-orang yang paling disayang oleh rasulullah, merekalah kaum dhu’afa.

Alangkah indahnya jika saat kematian menjelang, semua orang kehilangan figur penyayang. Betapa mulianya jika kematian kita menjadi tragedi bagi dunia. Karena seluruh rangkaian hidup kita bertabur kasih untuk sesama. Semoga satu saatnya nanti kita berjumpa dengan malaikat pencabut nyawa, kita dalam keadaan husnul khatimah. Harta kita, jiwa dan hati kita berserah kepada Allah dalam wajah yang pantas disanjung dengan ucapan “Salaamun qaulan min rabbirrahim”. Selamat jalan wahai kekasih alam!.

Oleh Nurjamil (Mahasiswa Pascasarjana PSTTI Ekonomi Syariah Universitas Indonesia)

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: