jump to navigation

Haji Mabrur December 19, 2008

Posted by Sakiyo in Uncategorized.
trackback

Adalah wajar ketika kita mendambakan saat dimana sebagaian saudara kita mampu melihat keagungan ciptaan Allah yakni ka’bah dengan pandangan penuh kerinduan. Betapa keistimewaan yang ditawarkan bagi mereka yang mampu menggapai haji mabrur menyisakkan keinginan yang mendalam dan tidak akan pernah padam agar suatu saat nanti kita diberi kesempatan untuk menyampaikan salam bagi manusia terrkasih sepanjang zaman, rasulllah saw melalui lisan kita sendiri.

Sungguh kerinduan ini semakin lama-semakin menjadi. Bayang-bayang kemegahan masjid haram, luasnya arafah, gemuruhnya takbir, putihnya lautan manusia. Semua meninggalkan secercah harapan andai suatu saat kita menjadi bagian dari mereka yang ratakan keningnya dalam sejud di keagungan masjid nabawi. Ah semua mimpi ini begitu berat jika kita hanya berfikir tentang keadaan kita yang sepertinya harus menempatkannya sebatas harapan saja.

Tapi sebentar, biarkan kami kami bertanya. Pernahkah terbersit di benak kita tentang kebesaran Allah azza wajalla. Betapa panggilan haji ini telah Allah sampaikan melalui lisan Ibrahim as lebih dari 3600 tahun yang lalu. Itu artinya semua kita mempunyai kesempatan yang sama untuk mereguk nikmatnya kekhusuan shalat berjamaah di depan kabah. Betapa Al-Quran diantaranya QS. Al-Baqarah 2:127 dan QS. Al-Haj 22:27 telah jelas mengatakan tentang syariat itu.

Mari sejenak kita merenung. Berapa banyak saudara kita, tetangga karib kerabat kita yang sesungguhnya secara fisik tidak mungkin mampu berangkat haji dengan ongkos yang begitu tinggi. Akan tetapi dengan keadilanNya, Allah berangkatkan ia ke tanah suci dengan cara Allah sendiri. Semua terkadang di luar akal sehat kita. Seperti cerita tentang seorang pedagang di sudut kota Bandung. Tabungan haji yang ia kumpulkan lebih dari 20 tahun lamanya, ia berikan demmi mengobati operasi tetangganya. Tentusaja mimpi untuk bisa berangkat haji hampir punah karena bagi seorang pedagang warung kecil pinggir jalan, tentu ia harus menabung lagi untuk 20 tahun ke depan.

Tapi sekali lagi kebesaran Allah terbukti. Dokter yang menagani pengobatan tetangga pak Asep sang pedagang yang baik hati ini ternyata Allah gerakkan hatinya. Akhirnya pak Asep dan istrinya mampu berangkat haji dengan dibiayai pak dokter tersebut.

Ketika kita lihat kembali makna haji mabrur dari sisi keilmuan. Menurut M. Quraish Shihab, haji mabrur ditandai dengan berbekasnya makna simbol-simbol amalan yang dilaksanakan di tanah suci, sehingga makna-makna tersebut terwujud dalam bentuk sikap dan tingkah laku sehari-hari.

“Pakaian biasa” ditanggalkan dan “pakaian ihram” dikenakan. Menanggalkan pakaian biasa, kata Quraish Shihab, berarti menanggalkan segala macam perbedaan dan menghapus keangkuhan yang ditimbulkan oleh status sosial. Mengenakan pakaian ihram melambangkan persamaan derajat kemanusiaan serta menimbulkan pengaruh psikologis bahwa yang seperti itulah dan dalam keadaan demikianlah seseorang menghadap Tuhan pada saat kematiannya. Bukankah ibadah haji adalah kehadiran memenuhi panggilan Allah?

Pertanyaannya, apakah sekembalinya dari tanah suci, masih ada keangkuhan, masih adanya pandangan perbedaan derajat kemanusiaan, masih menindas orang lain? Bila masih ada, maka Anda sesungguhnya masih mengenakan pakaian biasa, belum menanggalkannya.

Ka’bah merupakan lambang dari wujud dan Keesaan Allah. Bertawaf di sekelilingnya melambangkan aktivitas manusia yang tidak pernah terlepas dari-Nya. Ka’bah bagaikan matahari yang menjadi pusat tata surya dan dikelilingi oleh planet-planetnya. Pertanyaannya, apakah setelah bertawaf, segala aktivitas masih terikat oleh daya tarik Tuhan Yang Maha Esa? Kalau tidak, maka poros haji Anda keluar dari orbitnya. Artinya hajinya belum mencapai maqam haji mabrur.

Sai adalah lambang dari usaha mencari kehidupan duniawi. Kita tahu, bukankah Hajar (ibu Ismail a.s.) mondar-mandir di sana mencari air untuk puteranya? Pertanyaannya, apakah sepulang dari menunaikan ibadah haji masih akan berpangku tangan menanti turunya “hujan” dari langit atau akan berusaha dengan segala kemampuan untuk melepaskan “dahaga” kehidupan? Kalau usahanya, ternyata masih berangkat dari kekotoran dan tidak bermuara pada penghargaan dan kemurahan hati, maka tentunya jauh panggang dari api terhadap nilai yang didapat dari ibadah haji tersebut.

Arafah berarti pengenalan. Yakni dimaksudkan agar para jemaah haji diharapkan mampu mengenal jati dirinya, menyadari kesalahan dan kekeliruannya, serta bertekad untuk tidak mengulanginya. Dan yang lebih penting lagi adalah menyadari akan kebesaran dan keagungan Sang Penciptanya.

Pertanyaannya, sesampainya di tanah air, apakah tekad, kesadaran, dan pengenalan para jemaah haji terhadap dirinya itu masih berbekas? Kalau tidak, maka bisa jadi meminjam ucapan seorang penyair Persia, Nasher Khosrow, “Sesungguhnya engkau belum menunaikan ibadah haji.”

Berangkat dari pemehaman kita tentang makna ibadah haji maka mari kita bertanya kepada hati kita yang paling jernih. Baik kita sebagai orang yang telah diberikan kesempatan lebih dulu untuk menziarahi maqam rasulullah ataupun orang yang masih tetap menyimpan harap agar suatu saat menjadi bagian dari orang yang mencium hajar aswad. Apakah ketauladanan Ibrahim as yang bergelar kholilulloh (kekasih Allah) telah mampu kita aplikasikan dalam kehidupan kita?. Apakah kekuatan iman (tauhid) yang tertancap dalam hati Ibrahim dan Ismail telah pula menghujam dalam jiwa kita yang paling dalam?. Atau apakah keteguhan dan kesabaran Hajar, iatri Ibrahim yang berjuang demi kehidupan sang buah hati telah menjelma menjadi kekuatan diri untuk menjadi hamba yang sejahtera dan mandiri? Ketahuilah wahai saudaraku. Allah maha pengasih dan Allah maha penyayang. Maka tugas kita sebagai khalifahNya di muka bumi ini adalah menebarkan kasihsayangNya ke seluruh makhluk di penjuru alam. Semoga kita menjadi duta-duta penebar sifat Allah yang penyayang.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: