jump to navigation

Sudahkah kita berhijrah? December 31, 2008

Posted by Sakiyo in Uncategorized.
trackback

Satu Muharram, meski tidak termasuk orang yang mengistimewakan hari ini apalagi melakukan amalan-amalan khusus di hari tersebut, namun saya sering geli ketika dengar di kajian-kajian yang bertepatan sama hari itu, beberapa pembicara pengajian, tidak satu atau dua yang sering menjadikan tema momen hijrah dan ma’na hijrah Rasulullah beserta kaum muslimin ke Madinah di kajian-kajian muharramnya. Padahal keduanya (satu muharram dan moment hijrah ke Madinah) tidak ada kaitannya.

Memang, Islam mengenal tahun hijriyah, dan hijriyah ini dinisbatkan pada hijrahnya kaum muslimin ke Madinah. Akan tetapi, tahun hijriyah baru ditetapkan pada masa kepemimpinan Umar bin Khattab. Catat! Masa Umar bin Khattab ….

Saat itu, Umar radhiallahu’anhu, kesulitan menentukan waktu dalam urusan pencatatan yang berkaitan dengan pemerintahan. Lalu, diputuskan untuk menetapkan tahun, agar mempermudah. Sebelumnya ada beberapa usulan untuk menentukan tahun ke 1 (satu). Ada yang mengusulkan agar tahun ke satu dinisbatkan pada tahun kelahiran Rasulullah sholallohu’alaihiwassalam, namun ada juga yang mengusulkan agar tahun ke satu (Hijriyah) ditetapkan pada tahun hijrahnya kaum muslimin ke Madinah. Akhirnya diputuskan tahun hijrahnya kaum muslimin sebagai tahun ke satu, makanya tahunnya pun disebut tahun hijriyah, dari kata hijrah.

Dari sini sudah bisa disimpulkan bahwa pada masa Rasulullah hidup, belum ada yang namanya tahun hijriyah. Bukti lain, kita sering menyaksikan ada kerancuan atau perbedaan tahun pada sejarah kehidupan Rasulullah. Ada yang tahu, Tahun berapa Rasulullah lahir? Kita lebih sering tahu bahwa Rasulullah sholallohu’alaihiwassalam lahir di tahun Gajah, karena pada masa itu Ka’bah sedang diserang oleh pasukan bergajah, dan bukan pada tahun 1, 2, ato 3 Hijriyah. Jelas,tahun 1 nya aja baru ada setelah hijrahnya kaum muslimin ke Madinah…, yaitu pada masa kepemimpinan Umar bin Khattab.

Kalo 1 Muharram?

Sedangkan bulan-bulan islam (qomariyah) yang kita kenal, dari bulan muharram sampai bulan dzulhijjah, itu sudah ada jauh sebelum Rasulullah sholallohu’alaihi wassalam lahir. Jadi semasa Rasulullah hidup, baru dikenal bulan-bulan islam, namun belum dikenal tahun hijriyah. Karena tahun hijriyah baru ditetapkan setelah kepemimpinan Umar bin Khattab. Sehingga bisa kita simpulkan bahwa hijrahnya kaum muslimin tidak terjadi pada bulan muharram.

Akan tetapi tidak keliru jika pada saat-saat gemerlap pergantian tahun hijriyyah yakni 1 Muharram 1430 H kita melukiskan penggalan kisah tentang hirahnya rasulullah saw bersama para sahabanya yang setia sebagai kisah yang paling cemerlang dan indah yang pernah dikenal manusia sebagai tonggak kebangkitan umat dan wacana untuk memunculkan semangat jihad di jalan Allah.

Yatsrib atau Madinah sudah pasti menjadi masa depan Muhammad dan pengikutnya. Puluhan muslimin telah menyelinap pergi ke sana. Kaum Qurais tak terlalu peduli. Perhatian mereka pada Muhammad yang masih di Mekah yang tak akan mereka biarkan lolos. Padahal Muhammad telah siap untuk pergi. Abu Bakar telah menyiapkan dua unta baginya dan bagi Muhammad. Unta itu dipelihara Abdullah bin Uraiqiz.

Sampai pada harinya, perintah Allah untuk hijrah pun turun. Muhammad memberi tahu Abu Bakar. Para pemuda Qurais juga semakin ketat memata-matai rumah Muhammad. Mereka sesekali mengintip ke dalam rumah, melihat Muhammad berbaring di tempat tidurnya. Namun Muhammad meminta Ali mengenakan mantel hijaunya dari Hadramaut serta tidur di dipannya. Kaum Qurais tenang. Mereka pikir Muhammad masih tidur. Ketika esok harinya mendobrak pintu rumah Rasul, mereka hanya mendapati Ali yang mengaku tak tahu menahu tentang keberadaan Muhammad.

Malam itu, Muhammad telah menyelinap dari jalan belakang. Bersama Abu Bakar, ia berjalan mengendap dalam gelap, menuju sebuah gua di bukit Tsur. Sebuah pilihan cerdik. Kaum Qurais tentu menduga Muhammad menuju Yatsrib di utara Mekah. Muhammad malah melangkah ke selatan. Kejadian ini juga memperlihatkan bahwa Muhammad tetap menggunakan nalar yang wajar sebagai manusia. Jika mau, ia dapat meminta perlindungan Allah berwujud kesaktian seperti yang dikejar-kejar banyak manusia sekarang. Tapi tidak, Muhammad menunjukkan bahwa Islam bukanlah agama untuk kepentingan semacam itu.

Muhammad dan Abu Bakar hanya menjalankan siasat biasa. Dalam persembunyiannya, mereka tetap memasang telinga melalui Abdullah, anak Abu Bakar, yang tetap tinggal di Mekah. Setiap malam, Abdullah menemui mereka di gua melaporkan perkembangan suasana serta mengirim makanan yang disiapkan Aisyah dan saudaranya, Asma. Setiap pagi, pembantu Abu Bakar -Amir bin Fuhaira-menggembala kambing menghapus jejak itu.

Tiga malam mereka bersembunyi di gua itu. Satu riwayat menyebut sejumlah pemuda Qurais telah mencapai bibir gua. Abu Bakar gemetar meringkuk di sisi Muhammad. Saat itu, Muhammad berbisik. La tahzan, innallaaha ma’ana (Jangan sedih, Allah bersama kita). Rasul juga menghibur dengan kata-kata, ‘Abu Bakar, kalau kau menduga kita hanya berdua, Allah-lah yang ketiga’. Orang-orang Qurais itu lalu pergi. Konon mereka melihat sarang laba-laba serta burung merpati mengerami telur di mulut gua. Tak mungkin Muhammad bersembunyi di situ.

Setelah aman, Abdullah bin Uraiqiz membawa keluar mereka. Tiga unta beriringan ke Barat, berbekal makanan yang diikat dengan sobekan sabuk Asma. Abu Bakar disebut membawa seluruh uang simpanannya sebesar 5 ribu dirham. Mereka berjalan berputar menuju arah Tihama, dekat Laut Merah, melalui jalur yang paling jarang dilalui manusia. Baru kemudian mereka berbelok ke utara, ke Yatsrib, menapaki terik gurun. Siang-malam mereka terus berjalan.

Kaum Qurais membuat sayembara dengan hadiah 100 unta bagi yang dapat menangkap Muhammad. Suraqa bin Malik tergiur iming-iming itu. Ketika mendengar info ada tiga orang berunta beriringan, ia mengelabui kawan-kawannya. “O.. itu adalah si anu,” begitu kira-kira ucapan Suraqa. Namun ia kemudian memacu kudanya sendirian mengejar Muhammad. Sedemikian menggebu Suraqa, sehingga kudanya tersungkur. Sekali lagi, ia tersungkur setelah dekat dengan Muhammad. Suraqa lalu menyerah karena menganggap dirinya tengah sial.

Dua pekan kemudian, Muhammad tiba di Quba -desa perkebunan kurma di luar kota Yatsrib. Ia tinggal di sana selama empat hari dan membangun masjid sederhana. Di sana pula Muhammad bertemu kembali dengan Ali yang berjalan kaki ke Yatsrib. Mereka kemudian berjalan bersama menuju kota, dan disambut sangat meriah oleh warga Yatsrib dengan bacaan salawat. Orang-orang Arab -baik yang Islam maupun penyembah berhala-serta orang-orang Yahudi tumpah ruah untuk melihat sosok Muhammad yang banyak diperbincangkan.

Orang-orang berebut menawarkan rumahnya sebagai tempat tinggal Rasul. Tapi Muhammad menyebut bahwa ia akan tinggal di mana untanya berhenti sendiri. Sampai ke sebuah tempat penjemuran korma, unta itu berlutut. Muhammad menanyatakn tempat itu milik siapa. Ma’adh bin Afra menjawab, rumah itu milik Sahal dan Suhail -dua orang yatim dari Banu Najjar.

Setelah dibeli, rumah itu pun dibangun menjadi masjid. Hanya sebagian dari ruangan masjid itu yang beratap. Di sanalah orang-orang miskin –dari berbagai tempat yang datang menemui Muhammad untuk memeluk Islam– kemudian ditampung. Muhammad membangun rumah kecil bagi keluarganya di sisi masjid itu. Semasa pembangunan rumah itu, Rasul tinggal di rumah keluarga Abu Ayyub Khalid bin Zaid. Sekarang masjid yang dibangun Rasulullah itu menjadi masjid Nabawi yang teduh di Madinah. Sedangkan rumah tinggalnya menjadi tempat makam Rasul yang kini berada di dalam masjid Nabawi.

Pada usia 53 tahun -setelah 13 tahun masa kerasulannya serta membangun pondasi keislaman-Muhammad membuat langkah besar itu: hijrah. Langkah berbahaya namun mengantarkannya menjadi pemimpin utuh. Pemimpin keagamaan, kemasyarakatan juga politik. Peristiwa pada tahun 623 Masehi itu sekaligus mengajarkan keharusan umat Islam untuk berani menempuh langkah besar untuk mencari lingkungan atau lahan baru yang memungkinkan benih kebenaran dan kebajikan tumbuh lebih subur.

Bagaimana dengan kita?sudahkah kita berhijrah menjadi manusia yang lebih baik lagi?apakah keberadaan kita sudah cukup dirasakan kemanfaatannya untuk sesama. Maka moment tahun baru islam ini hendaknya menjadi saat ketika kita bermuhasabah tentang kiprah kita. Hubungan kita dengan Allah sebaik mungkin kita jaga agar tetap harmonis, pun demikian dengan ikatan kasih sayang kita dengan keluarga, terlebih kedua orang tua, kaum dhuafa, anak yatim, dan siapapun yang berharap kasihsayang menjadi bagian dari prioritas hijrah kita memberikan yang terbaik bagi mereka.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: